Antara Khalid Basalamah dan Abu Janda: Fenomena Denialisme, Bias Kognitif, dan Motivated Reasoning dalam Perdebatan Publik

0
IMG-20260312-WA0169

Oleh : FB Arbanggi Kadarusman.

METROFAKTUAL.COM, Jakarta, Kamis (12/3) – Perdebatan publik di media sosial kembali memunculkan diskursus menarik mengenai bagaimana manusia merespons fakta dan realitas yang bertentangan dengan keyakinannya. Tulisan reflektif yang beredar di ruang digital menyoroti fenomena psikologis yang disebut sebagai denialisme hingga motivated reasoning, dengan mengambil contoh respons yang muncul dari dua figur publik, yakni Khalid Basalamah dan Permadi Arya.

Tulisan tersebut menggambarkan bagaimana ketika dunia internasional sedang diliputi ketegangan geopolitik, terutama terkait konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan kepentingan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, publik justru disuguhkan perdebatan lain yang tidak kalah menarik: bagaimana sebagian orang menolak atau memutarbalikkan realitas.

Di tengah maraknya pemberitaan dari berbagai media internasional mengenai serangan rudal Iran yang diklaim menghantam target militer Amerika Serikat di kawasan Teluk serta mengguncang Israel, muncul pula narasi tandingan di ruang publik. Sebagian pihak menyebut serangan tersebut hanya mengenai area kosong atau bahkan dianggap sebagai sandiwara geopolitik yang telah diatur sebelumnya. Di sisi lain, ada pula narasi yang menyatakan bahwa dampak kerusakan akibat serangan itu dibesar-besarkan.

Fenomena inilah yang kemudian dijelaskan melalui pendekatan psikologi kognitif. Dalam kajian psikologi modern, sikap menolak fakta yang tidak sesuai dengan keyakinan dikenal sebagai denialism atau denialisme. Selain itu, terdapat pula konsep bias konfirmasi, yaitu kecenderungan seseorang hanya menerima informasi yang memperkuat keyakinannya dan menolak informasi yang bertentangan.

Tulisan tersebut juga menyinggung konsep lain yang cukup populer dalam psikologi sosial, yakni motivated reasoning. Dalam konsep ini, pikiran manusia bekerja bukan semata untuk mencari kebenaran objektif, melainkan untuk membela keyakinan, identitas, atau kelompok yang telah lebih dahulu diyakini.

Motivated reasoning digambarkan seperti seorang pengacara yang dibayar mahal untuk membela kliennya. Dalam konteks psikologi, “klien” tersebut adalah ego dan identitas seseorang. Ketika sebuah keyakinan telah melekat kuat selama bertahun-tahun, mengakui kesalahan sering kali terasa lebih berat daripada mempertahankan keyakinan tersebut, meskipun bertentangan dengan fakta.

Tulisan tersebut memberikan ilustrasi sederhana. Seseorang yang sejak lama meyakini bahwa kelompok tertentu menyimpang atau harus dijauhi dapat mengalami konflik batin ketika melihat realitas yang berbeda dari keyakinan tersebut. Ketika fakta yang muncul justru menunjukkan bahwa kelompok yang selama ini dicurigai melakukan perlawanan terhadap musuh bersama, otak manusia sering kali mengalami ketegangan psikologis.

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai cognitive dissonance atau disonansi kognitif. Disonansi kognitif adalah kondisi ketika dua keyakinan atau informasi yang bertentangan hadir secara bersamaan dalam pikiran seseorang, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan mental.

Untuk meredakan ketidaknyamanan tersebut, seseorang dapat memilih dua jalan: mengubah keyakinannya atau menolak fakta yang tidak sesuai dengan keyakinan tersebut. Dalam banyak kasus, jalan kedua sering kali dipilih karena dianggap lebih mudah secara emosional.

Tulisan itu menyebut kondisi ini sebagai “penjara kognitif”, yaitu situasi ketika seseorang terjebak dalam keyakinan kelompok atau identitas ideologis sehingga sulit melihat realitas secara objektif. Ketika identitas politik, agama, atau kelompok telah menjadi bagian dari jati diri seseorang, maka setiap fakta yang bertentangan dapat terasa seperti ancaman personal.

Akibatnya, seseorang tidak lagi memandang fakta secara netral, tetapi melalui kacamata kelompoknya. Jika kelompoknya menyatakan bahwa suatu peristiwa adalah sandiwara, maka narasi tersebut akan diterima tanpa banyak pertanyaan. Sebaliknya, fakta yang bertentangan akan dianggap sebagai propaganda atau manipulasi.

Tulisan reflektif tersebut menegaskan bahwa fenomena ini tidak selalu berkaitan dengan tingkat kecerdasan seseorang. Banyak individu yang memiliki pendidikan tinggi, akses informasi luas, bahkan pengaruh besar di masyarakat tetap dapat terjebak dalam bias kognitif. Hal ini terjadi karena keyakinan yang dipertahankan sering kali memiliki investasi emosional yang sangat kuat.

Dalam konteks tersebut, figur publik seperti Khalid Basalamah maupun Permadi Arya dipandang hanya sebagai cermin dari fenomena sosial yang lebih luas. Respons mereka terhadap suatu isu mencerminkan bagaimana manusia pada umumnya bereaksi ketika keyakinan lama berhadapan dengan fakta yang mengusik kenyamanan.

Tulisan tersebut juga mengajak publik untuk melakukan refleksi diri. Ketika seseorang merasa marah atau menertawakan pihak lain yang dianggap menyangkal fakta, penting untuk bertanya kepada diri sendiri apakah hal serupa juga pernah dilakukan dalam konteks yang berbeda.

Menurut penulis, tidak ada “obat instan” untuk mengatasi kecenderungan manusia dalam menyangkal realitas. Fenomena ini merupakan bagian dari dinamika psikologis yang telah lama menjadi objek kajian para ilmuwan. Namun, salah satu sikap yang dapat membantu mengurangi bias tersebut adalah kerendahan hati intelektual, yaitu keberanian untuk mengakui kemungkinan bahwa diri sendiri bisa saja keliru.

Kerendahan hati intelektual dinilai lebih penting daripada sekadar kepintaran. Dalam perspektif ini, keberanian untuk mengatakan “mungkin saya salah” merupakan langkah awal untuk keluar dari jebakan bias kognitif dan penolakan terhadap realitas.

Tulisan tersebut menutup refleksinya dengan mengutip pandangan sastrawan Rusia Leo Tolstoy yang pernah mengatakan bahwa banyak orang lebih memilih hidup dalam kebohongan yang nyaman daripada menghadapi kebenaran yang menghancurkan rasa aman mereka.

Pandangan tersebut dinilai relevan dengan dinamika perdebatan publik di era media sosial saat ini, ketika opini, identitas kelompok, dan fakta sering kali bercampur dalam ruang diskusi yang sama.

Tulisan reflektif ini pertama kali dipublikasikan oleh Arbanggi Kadarusman melalui akun media sosial pribadinya dan kemudian menyebar luas di berbagai platform digital, memicu diskusi panjang tentang psikologi manusia dalam menghadapi kebenaran dan keyakinan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *