Skrining TB Tanpa Laboratorium Kian Akurat, FKUI dan Industri Biofarmasi Perkenalkan CTST di Cilincing pada Hari TB Sedunia 2026
METROFAKTUAL, JAKARTA, 24 April 2026 — Upaya memerangi tuberkulosis (TB) di Indonesia terus didorong dengan pendekatan yang semakin inovatif dan kolaboratif. Dalam rangka Hari Tuberkulosis Sedunia 2026, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) turun langsung ke masyarakat melalui kegiatan pengabdian di Cilincing, Jakarta Utara, pada 24–25 April 2026. Kegiatan ini menghadirkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis sekaligus skrining TB berbasis teknologi terbaru yang diklaim lebih akurat dan praktis.
Ratusan warga tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan sejak pagi hari. Tidak hanya mendapatkan layanan medis, masyarakat juga menerima edukasi tentang bahaya TB serta pentingnya deteksi dini. Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa penanggulangan TB membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari akademisi hingga industri biofarmasi.
Di sela kegiatan, dr. Viryandi, Project Manager Jakarta Biopharmaceutical Industry (JBio), menegaskan bahwa inovasi teknologi menjadi faktor kunci dalam mempercepat deteksi TB di lapangan. Ia memperkenalkan metode terbaru bernama CTST yang dinilai mampu menjawab berbagai keterbatasan metode skrining sebelumnya.
“CTST ini merupakan terobosan penting. Kami menggunakan protein rekombinan spesifik dari Mycobacterium tuberculosis, yakni ESAT-6 dan CFP-10, sehingga hasilnya jauh lebih spesifik dalam mendeteksi infeksi TB, termasuk TB laten,” ujarnya dengan tegas.
Ia menjelaskan, selama ini metode konvensional seperti TST atau Mantoux kerap menimbulkan bias hasil karena dipengaruhi vaksinasi BCG atau paparan bakteri lain. Berbeda dengan itu, CTST hadir dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi.
“Keunggulan CTST bukan hanya soal akurasi. Hasilnya tidak terpengaruh vaksin BCG, dan ini sangat penting di negara seperti Indonesia yang memiliki cakupan imunisasi tinggi,” jelasnya.
Lebih lanjut, dr. Viryandi menekankan aspek kepraktisan teknologi ini. Ia menyebut, CTST tidak memerlukan pengambilan sampel darah maupun fasilitas laboratorium, berbeda dengan metode IGRA yang selama ini digunakan dalam pemeriksaan TB laten.
“Ini yang membuat CTST sangat relevan untuk skrining massal. Tidak perlu lab, tidak perlu alat rumit. Bisa langsung dilakukan di lapangan, cepat, dan tentu lebih hemat biaya,” tegasnya.
Menurutnya, teknologi ini telah mendapatkan pengakuan global. CTST telah direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), melalui serangkaian uji klinis di Indonesia, serta mengantongi izin edar dari BPOM dengan tingkat akurasi mencapai lebih dari 94 hingga 95 persen.
“Kami hadir bukan hanya membawa produk, tetapi solusi. Harapannya, metode ini bisa membantu pemerintah mempercepat deteksi TB, terutama di daerah dengan keterbatasan fasilitas kesehatan,” tambahnya.
Kegiatan ini juga melibatkan sejumlah mitra strategis dari industri farmasi nasional seperti Kimia Farma dan Bio Farma. Sekitar 300 warga mengikuti pemeriksaan kesehatan yang mencakup skrining TB, konsultasi medis, hingga edukasi pencegahan penyakit menular.
Para tenaga kesehatan yang terlibat turut mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap gejala TB. Batuk berkepanjangan, penurunan berat badan drastis, keringat malam, hingga demam menjadi tanda yang tidak boleh diabaikan.
“Jangan tunggu parah baru periksa. Kalau ada gejala, segera datang ke fasilitas kesehatan,” ujar salah satu tenaga medis di lokasi kegiatan.
Selain pemeriksaan, edukasi mengenai pola hidup bersih dan sehat juga menjadi fokus utama. Penggunaan masker, etika batuk, serta pentingnya menjaga daya tahan tubuh terus disosialisasikan kepada masyarakat sebagai langkah pencegahan.
Kegiatan di Cilincing ini diharapkan menjadi model skrining TB berbasis komunitas yang bisa direplikasi di berbagai daerah di Indonesia. Pendekatan langsung ke masyarakat dinilai efektif untuk menjangkau kelompok rentan yang selama ini sulit mengakses layanan kesehatan.
Menutup keterangannya, dr. Viryandi menyampaikan optimisme terhadap masa depan penanggulangan TB di Indonesia. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dan pemanfaatan teknologi dalam menekan angka kasus secara signifikan.
“Kami yakin, dengan sinergi semua pihak dan dukungan inovasi seperti CTST, Indonesia bisa melangkah lebih cepat menuju eliminasi TB. Ini bukan hanya target, tapi kebutuhan,” pungkasnya.
