Khutbah Jumat di Masjid Baitul Jannah Ancol: Ustadz Wahidin Azzam Ajak Umat Wujudkan Iman, Takwa, dan Akhlak Mulia dalam Kehidupan

0
IMG-20260313-WA0107

METROFAKTUAL.COM, JAKARTA UTARA, Jumat (13/3) — Ustadz Wahidin Azzam, S.Sos., dalam khutbahnya pada pelaksanaan sholat Jumat di Masjid Baitul Jannah Marina Ancol, lingkungan Polres Kepulauan Seribu, menekankan pentingnya umat Islam meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar pengakuan di lisan.

Dalam khutbahnya, Ustadz Wahidin Azzam mengingatkan bahwa iman yang sejati harus tercermin dalam tiga hal utama, yaitu keyakinan dalam hati, pengakuan dengan lisan, dan pengamalan melalui perbuatan. Prinsip ini dikenal dalam ajaran Islam sebagai tasdiq bil qalbi wa iqrar bil lisan wa ‘amal bil arkan, yakni membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota tubuh.

Menurutnya, keimanan dan ketakwaan yang benar tidak boleh berhenti pada simbol, identitas, atau sekadar ucapan. Keimanan harus mampu mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari mengatur diri sendiri, keluarga, masyarakat, hingga kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Apabila kehidupan kita berlandaskan nilai-nilai iman dan takwa yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, maka Allah pasti memberikan kemuliaan, jalan keluar atas berbagai persoalan, serta kemampuan untuk membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang benar dan yang salah, antara yang makruf dan yang mungkar,” ujar Ustadz Wahidin di hadapan jamaah.

Ia juga mengingatkan janji Allah dalam Al-Qur’an bahwa apabila suatu kaum beriman dan bertakwa, maka Allah akan melimpahkan keberkahan dari langit dan bumi. Ayat tersebut terdapat dalam Al-A’raf Ayat 96 yang menjelaskan bahwa keberkahan akan diberikan kepada masyarakat yang benar-benar memegang nilai keimanan dan ketakwaan.

Namun sebaliknya, apabila manusia mengabaikan dan mendustakan ayat-ayat Allah, maka berbagai musibah dan kesulitan dapat menjadi konsekuensi dari perbuatan mereka sendiri.

Lebih lanjut, Ustadz Wahidin menegaskan bahwa tujuan utama dari ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah membentuk pribadi-pribadi yang bertakwa. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Baqarah Ayat 183 yang menjelaskan bahwa kewajiban berpuasa bagi orang-orang beriman bertujuan agar mereka menjadi insan yang bertakwa.

Menurutnya, ketakwaan bukan hanya sebatas ucapan, melainkan harus tercermin dalam perilaku sehari-hari. Orang yang bertakwa akan menghadirkan berbagai sifat mulia dalam kehidupannya, di antaranya tawaduk, qana’ah, warak, serta amanah.

Sifat pertama yang ditekankan adalah tawaduk atau rendah hati. Orang yang bertakwa tidak akan bersikap angkuh dan sombong kepada siapa pun, karena ia menyadari bahwa segala kelebihan yang dimilikinya hanyalah karunia Allah.

Ustadz Wahidin mengingatkan bahwa kesombongan adalah sifat yang hanya pantas dimiliki oleh Allah SWT, yang memiliki salah satu nama agung yaitu Al-Mutakabbir, Yang Maha Memiliki Keagungan.

Ia kemudian mengangkat kisah Iblis yang dahulu dikenal sebagai makhluk yang taat kepada Allah, bahkan memiliki kedudukan tinggi di antara para malaikat. Namun karena kesombongannya ketika diperintahkan untuk bersujud kepada Adam sebagai bentuk penghormatan, Iblis menolak dengan alasan dirinya lebih baik karena diciptakan dari api sedangkan Adam dari tanah.

Kesombongan itulah yang menyebabkan Iblis dilaknat dan diusir dari rahmat Allah. Dari peristiwa tersebut, umat Islam diingatkan bahwa kesombongan sekecil apa pun dapat menghancurkan amal dan ketaatan seseorang.

Selain tawaduk, sifat kedua yang harus dimiliki oleh orang bertakwa adalah qana’ah, yaitu sikap merasa cukup dan menerima dengan penuh syukur segala ketentuan yang diberikan oleh Allah SWT.

Menurut Ustadz Wahidin, qana’ah bukan berarti berhenti berusaha, melainkan memiliki hati yang ridha terhadap rezeki yang telah Allah tetapkan. Orang yang bersyukur atas nikmat Allah akan mendapatkan tambahan nikmat, sedangkan orang yang tidak bersyukur justru berpotensi kehilangan keberkahan dalam hidupnya.

Sifat berikutnya adalah warak, yaitu sikap berhati-hati dalam menjalani kehidupan, khususnya dalam menjauhi perkara yang haram maupun yang bersifat syubhat atau meragukan.

Ia menegaskan bahwa makanan, harta, dan segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh manusia akan memengaruhi karakter dan perilaku seseorang. Oleh karena itu, umat Islam harus berhati-hati dalam berpikir, berbicara, dan bertindak agar tetap berada dalam jalan yang diridhai Allah.

Warak juga menjadi bagian penting dari proses tazkiyatun nafs, yaitu pembersihan jiwa agar manusia dapat menjalani kehidupan dengan hati yang bersih dan suci.

Sementara itu, sifat terakhir yang menjadi ciri orang bertakwa adalah amanah atau dapat dipercaya. Menurutnya, amanah adalah fondasi penting dalam membangun kehidupan yang harmonis, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam kepemimpinan.

Allah SWT memerintahkan manusia untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya serta memutuskan perkara dengan adil. Hal ini ditegaskan dalam An-Nisa Ayat 58.

Ustadz Wahidin juga menyampaikan bahwa dalam sebuah hadis Rasulullah SAW disebutkan terdapat tiga golongan manusia yang doanya tidak akan ditolak oleh Allah, yaitu orang yang berpuasa hingga ia berbuka, pemimpin yang adil, serta orang yang dizalimi.

Karena itu, ia mengajak seluruh jamaah untuk memanfaatkan bulan Ramadhan dengan memperbanyak amal ibadah, memperbaiki akhlak, serta meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah SWT.

“Semoga kita semua mampu mengamalkan nilai-nilai keimanan, menghadirkan sifat tawaduk, qana’ah, warak, dan amanah dalam kehidupan kita. Dengan demikian, kita dapat meraih predikat takwa di sisi Allah dan mendapatkan ampunan atas dosa-dosa kita,” tutupnya.

Khutbah Jumat tersebut diakhiri dengan doa agar seluruh umat Islam mendapatkan keberkahan Ramadhan, diampuni dosa-dosanya, serta diberikan kekuatan untuk terus menjaga iman dan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *